Searching...
Monday, August 5, 2013

Telinga berdengung atau berdenging - Tinnitus


Pada artikel penyebab gangguan telinga, kita sudah mengetahui bahwa kita tidak dapat menyepelekan dengungan pada telinga kita. Ganguan telinga yang sudah kita bahas sebelumnya di dalam dunia kedokteran dapat disebut dengan gangguan Tinnitus.
Defenisi gangguan telinga berdengung (berdenging) atau Tinnitus ini merupakan suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan seperti mendengar suatu bunyi tanpa rangsangan bunyi dari luar. Suara yang terdengar seperti bunyi mendenging, menderu, mendesis, atau berbagai macam bunyi lainnya. Walaupun pada akhirnya gangguan ini akan menghilang namun pasti akan timbul kembali pada kondisi tertentu seperti kelelahan pada tubuh.
Telinga berdengung atau Tinnitus ini biasanya terjadi pada salah satu telinga atau kedua telinga. Gangguan ini bersifat ringan hingga bersifat sangat berat dan bahkan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Telinga berdengung ini bukan sebuah penyakit melainkan tanda dari suatu gangguan telinga yang cukup serius apabila nggak diobati dengan cepat.  
Gangguan Tinnitus ini biasanya terjadi karena gangguan konduksi yang berkaitan dengan bunyi nada rendah. Jikalau hal ini disertai dengan inflamasi maka bunyi dengung akan terasa seperti berdenyut dan hal ini biasanya terjadi pada sumbatan di liang telinga, tumor, otitis media, dan lain sebagainya.
Timbulnya Tinnitus subjektif yang bernada tinggi biasa terjadi didalam rongga telinga dalam ketika suara nada tinggi merambat melalui cairan telinga, merangsang dan membunuh sel-sel rambut pendengaran sehingga telinga tidak dapat merespon terhadap frekuensi suara. Sel-sel rambut tersebut merupakan tonjolan-tonjolan kecil yang membungkus kokhlea di dalam telinga bagian dalam. Ketika suara masuk ke daun telinga dan diterima lalu sel-sel rambut kecil ini akan mengirim sinyal listrik ke otak dan kemudian di ubah menjadi suara. di Kerusakan pada perangkat pendengaran inilah atau sel-sel rambut tersebut yang menyebabkan telinga berdengung.
Sel-sel rambut tersebut dapat pulih dari kerusakan sementara tetapi suara yang keras dan sering masuk ketelinga dapat merusak sel-sel rambut secara permanen. Telinga tidak mampu menyaring atau meredam frekuensi suara yang terlalu tinggi. Secara umum orang yang pendengarannya normal, audiogramnya terletak di 0-20 dB.
Untuk pemeriksaan secara fisik Tinnitus ini dilakukan pengujian khusus untuk dapat mengetahui secara tepat dari mana Tinnitus ini berasal. Tes ini berguna bagi dokter untuk mengetahui apakah timbulnya Tinnitus ini terus menerus, sebentar saja atau berdenyut mengikuti denyut jantung, atau ada hubungannya dengan kehilangan pendengaran atau karena vertigo. Tingkat kehilangan pendengaran pasien juga akan dilakukan pengujian pendengaran dengan menguji audiogramnya.
Tes lainnya juga akan dilakukan yaitu seperti auditory brain system respon (ABR), tes dengan computer dari syaraf-syaraf pendengaran dan jalan-jalan kecil otak, computer tomography scan (CT scan), magnetic resonance imaging (MRI scan) mungkin akan diperlukan untuk mengatisipasi adanya tumor yang timbul pada syaraf pendengaran atau keseimbangan.

Sebuah penelitian dilakukan untuk memperbaiki kerusakan itu, peneliti menggunakan tikus untuk menguji sebuah teori bahwa mereka dapat mereset otak dengan pelatihan ulang sehingga neuron yang menyimpang kembali ke keadaan normal. Pada tikus yang menderita tinnitus, simpul listrik merangsang syaraf vagus, yang berlangsung dari kepala melalui leher ke perut, dalam kombinasi dengan memainkan nada tinggi yang melengking. Ketika distimulasi, saraf dapat mendorong perubahan di otak dengan melepaskan bahan kimia seperti acetylcholine dan norepinephrine yang berfungsi sebagai neurotransmitter.
Tikus yang menjalani proses keduanya, yaitu pemaparan suara dan stimulasi mengalami penghentian suara mendenging hingga tiga setengah bulan lamanya. Sementara tikus yang hanya menerima satu proses saja, yaitu pemaparan suara kencang atau hanya stimulasi, tidak mengalami perubahan apa-apa.

Pemeriksaan respons saraf di bagian korteks pendengaran menunjukkan tingkat normal pada tikus yang diobati dengan kombinasi rangsangan dan suara, menunjukkan gangguan tinnitus telah menghilang. Peneliti tersebut mengembalikan sistem otak dari bagian yang menghasilkan tinnitus ke sebuah bagian yang tidak menghasilkan tinnitus. Mereka mencoba menghilangkan sumber adanya gangguan tinnitus.

0 comments:

Post a Comment

 
Back to top!